Monday, 23 January 2012

Dongeng Semusim


            Sarah mengambil ponselnya, menekan nomor Nabil. Cukup lama ia menunggu sampai akhirnya panggilan itu dijawab.
            “Bil…., kamu di mana, kok belum pulang?” Sarah mencoba menekan perasaaannya.
            Sar….” Suara Nabil seperti tercekat.
            Air mata Sarah menetes lagi. Dia jadi sulit bicara karena napasnya sesak.
            Jangan nangis, Sarah,” ujar Nabil pilu. “Aku nggak bisa denger kamu nangis. Please.”
            Sarah menarik napas dalam-dalam. “Aku cuma mau tahu kenapa kita kayak gini, sih, Bil?” Sarah tertawa pelan di sela isakannya. “Kamu bercanda, kan? Kamu cuma mau menghibur aku? Isengin aku?”
            Ini serius, Sarah.” Nabil terdengar datar, tanpa emosi.
            “Terus…., aku mesti ngapain supaya keadaan kayak biasa lagi? Kalau kamu marah karena aku ngomong sama Puspa, aku minta maaf. Kalau kamu marah aku pakai jilbab, aku kayak gini, aku bisa mengubahnya. Kalau kamu marah aku hamil, bunuh dia, Bil! Bunuh anak kita kalau kamu emang nggak punya hati! Bilang, aku mesti gimana sekarang?” Emosi Sarah meluap-luap.
            Aku nggak tahu, Sar….” Nabil putus asa.
            “Bil, kamu nggak bisa bikin keadaan kayak gini terus! Kamu kira aku nggak capek? Kamu kira aku punya berjuta kesabaran? Aku….” Sarah menangis.
            Sarah, jangan nangis.” Suara Nabil bergetar.
            Sarah berusaha meredakan tangisnya. “Aku pernah mikir buat nyerah, tapi aku nggak bisa ninggalin kamu. Nggak bisa.” Dia menatap salah satu foto pre-wedding mereka yang diapajang di ruangan kerja itu. “Karena…., aku nggak bisa berhenti mencintai kamu!”
            Nabil terdiam. Suasana di seberang sangat sepi.
            “Bilang sama aku, Bil, aku harus gimana? Apa yang kamu mau biar semuanya bisa balik lagi? Bilang, Bil….”
            Nabil masih diam.
            “Aku kira, rasa cinta kamu sama besarnya dengan cintaku, tapi aku salah! Kamu sama sekali nggak ngerti cara mencintai seseorang. Kamu nggak benar-benar mencintai aku.” Sarah mengusap matanya. Emosinya hampir berada di puncak.
            Sar, nggak gitu….”
            “Kenyataannya gitu, Bil! Kamu nggak ngerti gimana aku usaha buat kamu. Kamu nggak ngerti gimana beratnya aku biar sama-sama kamu. Kamu nggak ngerti…. Kamu benar-benar nggak ngerti….”
            Nabil menghela napas. Dia berkata perlahan. “Aku emang nggak ngerti apa pun, Sar…. Aku nggak ngerti darimana cinta melihat kita, atau aku yang salah memandang cinta itu sendiri. Aku nggak ngerti….”
            Biar aku yang buat kamu ngerti, Bil….”

Entah untuk keberapa kalinya, aku terhipnotis dengan novel fiksi. Tapi, yang ini lain. A-must-read-novel. Menurutku, ide cerita simple, tapi si penulis mampu mengolah klimaksnya menjadi jauuuuuh dari kata simple. Sumpah! Lo wajib baca! Ini keren banget. Dan potongan cerita di atas adalah bagian yang paling aku suka.

-Potongan cerita dalam novel Dongeng Semusim, karya Sefryana Khairil-

No comments:

Post a Comment

I CAN IF I THINK I CAN