Monday, 14 June 2010

Konspirasi antara dr. S dan Resepsionis part IV

Di postingan sebelumnya, kami gagal wawancara dengan dr. P. Then, kami pun mutusin buat terima tawarannya buat melobi jadwal wawancara ke asistennya.

Sepulang dari rumah beliau, kami mampir ke sekolah. Setelah didiskusikan lebih lanjut, kami terima tawaran dan Marina segera menghubungi nomor asistennya. Singkat cerita, asistennya kasih jadwal wawancara di hari Rabu jam 10 pagi. Awalnya sih jelas aku tolak karena itu di jam pelajaran dan gak segampang itu bolos. Apalagi abis itu kan jamnya B. Indonesia. Ah gak deh (pikirku).
Marina recalled.

But, it couldn't reschedule. Accepting or ignoring. Ya, we choose to take it and got a permission.

Rabu, 17 Maret 2010.
Setelah bel first break bunyi, kami langsung cabut ke lobi. Ambil surat ijin keluar dan minta tanda tangan guru piket. Before, kami minta ijin ke Vita buat minjem sepedanya, ya itung-itung GO GREEN gitu deh :p

Waw, I just couldn't believe that Marina was a nice biker, though. So comfortable :D

Berhubung di antara kita gak ada yang tahu dengan tepat dimana daerah DINKES sebenarnya, jadi ya seperti biasa, seperti anak hilang yang sedang nyariin induknya. Lucky us! Ternyata kami gak butuh waktu lama buat nemuin tempat praktiknya. It's indeed right in front of DINKES.

Kami langsung disambut oleh dua perawat (idk if one of them is the assistant). Setelah berbasa-basi dan mengutarakan maksud kedatangan kami, salah satu dari mereka bilang kalau tiba-tiba tadi pagi ada operasi apa gitu so dr. P harus ngancel jadwal wawancara. Kalau mau, kami diminta kembali keesokan harinya.

WHATTTA HELL!

Sekarang, kami benar-benar bingung. Kami sudah terlanjur minta ijin untuk 2 jam pelajaran. Sebenarnya sih bisa aja kami balik ke sekolah, tapi masalahnya hari ini presentasi biografi udah dimulai. Dan kami berdua belum menyiapkan materi kami masing-masing. Bodohnya, Marina yang bertugas jadi moderator belum menyiapkan apapun untuk disampaikan. Gimana jadinya kalau kami balik ke sekolah dan langsung ditunjuk buat maju? Mau dibawa kemana muka ini? grrr

Sumpah, bingung banget. Gak tau harus gimana. Kemana dan berbuat apa ya Allah?

Entah terkontaminasi apa, kami mutusin buat ke rumah dr. I. Siapa tau beliau lagi duduk-duduk manis di beranda rumah (hayal). Bodoh banget sih kalau dipikir-pikir ulang. Hellooo! What time is it now? Mana mungkin ada dokter nganggur di jam kerja begini. Ah, siapa tau jam segini masih buka praktik (pikir kami).

Sampai di kediaman dr. I, pintu rumah terbuka lebar. Well, the garage is empty. Teng tong! Sempat terlintas ide buat ngetok rumahnya, tapi gak jadi deh. Akhirnya, kami mutusin buat nelepon Adlu. Tapi, Adlunya mana? Dicalling berkali-kali dan gak diangkat. Ah, ya iyalah gak diangkat. Ini kan jam pelajaran.

After that, kami pergi ke wartel samping spensa. Ada rencana baru yang kami susun ---> nelepon RS itu lagi. YA, GOOD IDEA.

Dialing.

Terdengar suara si resepsionis (ya, masih yang itu). Basa-basi dan maksud menelepon aku lontarkan. Betapa bahagianya ketika si resepsionis bilang kalau dr. S udah datang dan sekarang lagi disambungin ke beliau. Sumpah, gak kebayang lagi senengnya. Aku kasih tau Marina dan dia pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba terdengar seorang bersuara berat (I know he is dr. S) sedang berdebat dengan si resepsionis. Intinya dia gak mau jadi narasumber kami karena di RS nya gak ada kasus yang kami bahas. It's enough doc, your saying really hurted us so much :'(

Parahnya lagi, beliau justru menyarankan kami buat wawancara dengan dr. BS. kepala DINKES saat ini. You know him? Dr. BS itu dokter deket rumahku, yang sering aku mintain resep kalau lagi sakit. Ya ampun, masalah apalagi ini ya Allah?

Nyesek banget rasanya denger itu dokter ngomong begitu. Hey, pak dokter! Gampang sekali Anda berbicara seperti itu? Kami udah korbankan waktu kami, gak tanggung-tanggung, berhari-hari Pak. Lalu, dengan seenak jidat Anda berbicara seperti itu. Apa susahnya sih berbagi ilmu sedikit dengan pelajar. Tenang aja Pak, kami gak akan menyaingi kepintaran Bapak kok. Lagian kami kan cuma minta penjelasan bukan mau ngadain penelitian.

Kami benar-benar kecewa dengan sikapnya. Sumpah, tuh dokter kampret beneran emang. Sabar..sabar..

Akhirnya, kami mutusin buat menuggu sebentar di wartel sambil sms anak-anak di kelas, apa benar diskusi sudah berlangsung? Jawabannya iya. Waduh, gaswaaaaat! Daripada kami balik ke sekolah dan menanggung malu, kami mutusin buat bolos pelajaran. Baru pukul 11.30 kami balik ke sekolah.

Pikiran udah mulai gak karuan banget. Rasanya pengen nonjok dokter kampret itu. Untung aja sampai saat ini kami belum tahu wajahnya seperti apa. Jadi, inti dari semua masalah ini sebenarnya adalah si resepsionis. Kalau saja dia gak nawarin dr. S ke kami, pasti ini gak akan terjadi. Kami pun menyimpulkan bahwa sebenarnya si resepsionis itu sama sekali belum ngasih tau ke dr. S kalau ada yang mau wawancara. Logikanya, kalau dia udah ngasih tau, si dokter kampret itu pasti akan nolak dari awal. Iya kan?

Lama-lama aku dan Marina mulai frustasi cari dokter buat narasumber. Apalagi acara study tour ke Bali udah semakin dekat. Pokoknya kami gak mau mikirin wawancara lagi. Akhirnya, semua permasalahan kami limpahin ke Hafid. Guess what? Sehabis studytour, Hafid udah dapet materi karya tulis dan itu langsung dapet dari dr. P. Wth! Kok bisa? Ah, tahu gitu sih mending Hafid aja deh yang wawancara sama dokter-dokter itu.

Memilukan banget sih kisah kami. Hbu?
We really struggled as much as we could, but we got nothing for replay.

2 comments:

  1. Emang itu si dokter kampret bener dah!!
    lanjutkan wind! (apane ya?)

    sudah.. sudah..

    ReplyDelete
  2. setuju! kudeta aja deh tuh dokter kampret.. ineemmm kemarin aku lewat depan rumahnya lagi.. huuuuh pengen anarki nih!

    ReplyDelete

I CAN IF I THINK I CAN