sebenernya ini kisah lama tapi baru sempat aku posting sekarang.
semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian semua.
Siang hari, saat classmeeting tepatnya.
Aku yang masih terbawa suasana sedih karena kepergian teman memutuskan buat menenangkan diri di mushola sekolah sambil mengambil air wudhu buat salat dhuha. Aku juga mau memanjatkan doa untuknya. Cuma itu yang bisa aku perbuat saat ini.
Di mushola aku bertemu dengan salah satu teman. Saat itu, ia sedang mencuci mukanya dengan sabun muka. Air mataku belum berhenti. Masih terus mengalir sampai mengundang tanda tanya besar temanku. Jujur, ia bukan teman dekatku. Jadi, aku tidak bisa kalau harus blak-blakan dengan apa yang terjadi. Aku putuskan untuk berbohong, ya walaupun bisa terlihat jelas alasanku itu tidak masuk akal. Tapi aku tak peduli.
Aku ambil air wudhu. Kuusap air mataku. Setelah itu, aku segera mengambil mukena dan menunaikan salat dhuha. Tak lupa kupanjatkan doa untuknya, teman lamaku yang sangat kusayangi.
Aku memutuskan untuk tinggal di mushola. Ia mengajakku berbincang. Ia bercerita segala hal. Mulai dari masalah pelajaran, lingkungan sekitar, sampai cita-citanya di kemudian hari.
Subhanallah!
Aku sangat-sangat tersentuh ketika mendengarkan ceritanya. Ia bercerita kalau besar nanti, ia ingin menjadi seorang Guru TK. Keinginannya untuk mengajar anak-anak kecil sangat bulat. Ia ingin anak-anak Indonesia cerdas dan maju dalam hal berpikir. Ia juga ingin mengajarkan Islam. Ingin mengajari mereka mengaji agar kelak mereka tidak termasuk orang yang buta huruf hijaiyah. Menurutnya, menjadi seorang guru itu mengasyikkan. Selain karena bisa belajar setiap harinya (long life education), menjadi seorang guru juga sama artinya dengan meminimalisir terjadinya korupsi. Coba kalian bayangkan! Di sebuah sekolah, anggaran yang dikelola tidak terlalu banyak. Lagipula, harta yang mereka miliki hanya ilmu. Toh, kalaupun ada peluang, itu tidak lebih besar dari seorang yang bekerja di sebuah perusahaan, yang setiap harinya dikelilingi harta.
Ada juga keinginan lain yang ia miliki. Suatu saat nanti, ia ingin menjadi seorang penulis buku anak-anak dan bisa menafkahkan penghasilannya untuk kaum miskin. Ia juga bertutur kalau ia ingin anaknya hafal Al Quran kelak. Subhanallah, aku sama sekali tak menyangka ada anak yang memiliki pandangan jauh ke depan seperti itu.
Aku semakin terpana ketika ia bercerita bahwa ia berniat untuk berkuliah di daerah yang tidak jauh dari Kebumen. Walaupun sebenarnya ia juga ingin kuliah di luar negeri. Alasannya sangat simple. Ia tidak mau menjadi beban orang tuanya. Jika ia berkuliah di Jakarta misalnya, orang tuanya harus mengeluarkan budget yang cukup banyak untuk kehidupan sehari-hari, belum lagi ia yang pasti harus memiliki laptop.
Ya Allah, dia sangat berbeda denganku. Selama ini aku tidak pernah memikirkan beban orang tua. Aku hanya memikirkan kesenanganku sendiri. Tiap hari selalu menuntut ini dan itu tanpa merasakan susahnya mencari uang atau lelahnya membanting tulang sekali pun. Betapa egoisnya diri ini. Aku sangat beruntung Kau pertemukan aku dengannya. Ia benar-benar telah menjadi sumber pencerahan bagiku. Terima kasih Ya Allah
Engkau Maha Menolong
semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian semua.
Siang hari, saat classmeeting tepatnya.
Aku yang masih terbawa suasana sedih karena kepergian teman memutuskan buat menenangkan diri di mushola sekolah sambil mengambil air wudhu buat salat dhuha. Aku juga mau memanjatkan doa untuknya. Cuma itu yang bisa aku perbuat saat ini.
Di mushola aku bertemu dengan salah satu teman. Saat itu, ia sedang mencuci mukanya dengan sabun muka. Air mataku belum berhenti. Masih terus mengalir sampai mengundang tanda tanya besar temanku. Jujur, ia bukan teman dekatku. Jadi, aku tidak bisa kalau harus blak-blakan dengan apa yang terjadi. Aku putuskan untuk berbohong, ya walaupun bisa terlihat jelas alasanku itu tidak masuk akal. Tapi aku tak peduli.
Aku ambil air wudhu. Kuusap air mataku. Setelah itu, aku segera mengambil mukena dan menunaikan salat dhuha. Tak lupa kupanjatkan doa untuknya, teman lamaku yang sangat kusayangi.
Aku memutuskan untuk tinggal di mushola. Ia mengajakku berbincang. Ia bercerita segala hal. Mulai dari masalah pelajaran, lingkungan sekitar, sampai cita-citanya di kemudian hari.
Subhanallah!
Aku sangat-sangat tersentuh ketika mendengarkan ceritanya. Ia bercerita kalau besar nanti, ia ingin menjadi seorang Guru TK. Keinginannya untuk mengajar anak-anak kecil sangat bulat. Ia ingin anak-anak Indonesia cerdas dan maju dalam hal berpikir. Ia juga ingin mengajarkan Islam. Ingin mengajari mereka mengaji agar kelak mereka tidak termasuk orang yang buta huruf hijaiyah. Menurutnya, menjadi seorang guru itu mengasyikkan. Selain karena bisa belajar setiap harinya (long life education), menjadi seorang guru juga sama artinya dengan meminimalisir terjadinya korupsi. Coba kalian bayangkan! Di sebuah sekolah, anggaran yang dikelola tidak terlalu banyak. Lagipula, harta yang mereka miliki hanya ilmu. Toh, kalaupun ada peluang, itu tidak lebih besar dari seorang yang bekerja di sebuah perusahaan, yang setiap harinya dikelilingi harta.
Ada juga keinginan lain yang ia miliki. Suatu saat nanti, ia ingin menjadi seorang penulis buku anak-anak dan bisa menafkahkan penghasilannya untuk kaum miskin. Ia juga bertutur kalau ia ingin anaknya hafal Al Quran kelak. Subhanallah, aku sama sekali tak menyangka ada anak yang memiliki pandangan jauh ke depan seperti itu.
Aku semakin terpana ketika ia bercerita bahwa ia berniat untuk berkuliah di daerah yang tidak jauh dari Kebumen. Walaupun sebenarnya ia juga ingin kuliah di luar negeri. Alasannya sangat simple. Ia tidak mau menjadi beban orang tuanya. Jika ia berkuliah di Jakarta misalnya, orang tuanya harus mengeluarkan budget yang cukup banyak untuk kehidupan sehari-hari, belum lagi ia yang pasti harus memiliki laptop.
Ya Allah, dia sangat berbeda denganku. Selama ini aku tidak pernah memikirkan beban orang tua. Aku hanya memikirkan kesenanganku sendiri. Tiap hari selalu menuntut ini dan itu tanpa merasakan susahnya mencari uang atau lelahnya membanting tulang sekali pun. Betapa egoisnya diri ini. Aku sangat beruntung Kau pertemukan aku dengannya. Ia benar-benar telah menjadi sumber pencerahan bagiku. Terima kasih Ya Allah
Engkau Maha Menolong
No comments:
Post a Comment