Saturday, 30 January 2010

feel like to be the winner

Sebenernya ini cerita lama tapi baru sempat posting sekarang.
Semoga dapat menghibur :)



Seperti biasa, classmeeting selama 1 minggu selalu dan enggak pernah absen buat diselenggarain. Para panitia (yang pasti bukan aku) mengadakan banyak lomba. Mulai dari sport (voli, futsal for female, basket), cooking, design calendar, and tereteng…. scrabble.

Kalo sport udah pasti lah ya si cowok-cowok yang ikut. Sedangkan si ceweknya jadi pemandu sorak (read: supporter). Masalah manduin sorak kelasku emang jagonya. Apapun diteriakin. Lalu, dimix dengan gedumbrengan yang enggak bernada. Tapi sayang banget kemarin pada enggak mau futsalan (termasuk aku). Abis malay banget futsalan panas-panas, udah gitu ditonton semua grade, iya kalo jago nendang gak masalah deh, lah masalahnya gak ada yang jago. Makanya kita-kita pada gak mau. Akhirnya kena deh denda Rp15.000,00. No matter lah, uang kita kan banyak hahaha

Terpaksa uang Rp15.000,00 kembali dikeluarkan. We have no representative for cooking competition. Alasannya simple banget. Kami (aku, marina) udah gak bersedia lagi buat ikutan kompetisi memasak. Sama aja malu-maluin diri sendiri kalo sampe ikut (masih kebayang lomba masak HUT yang bener-bener ancur). Kami juga lagi sibuk sendiri ngurusin remidian yang tak kunjung selesai. So, buat apa mikirin masak. Fiuh buang waktuuuuuuuu! Dan sepertinya kami harus ngeluarin Rp15.000,00 again buat design calendar. Ya udah lah emang nasibnya cuma bayar denda mau gimana lagi? ckck

Hari Rabu, 16 Desember 2009
Agenda hari itu adalah mengikuti REMIDI FISIKA. 3 chapter sekaligus, mampus! Sempet berniat buat perang (terinspirasi oleh marina) tapi akhirnya gak terlaksana. Di rumah pun belajar rada ogah-ogahan. Cuma buka-buka buku tanpa ngerti maksudnya apa ckck. Wajar deh kalo begitu. Bosen tau belajar mulu. Lagian apa deh gurunya, jaman-jamannya classmeeting eh malah suruh remidian. Mending ya remidiannya pake tugas kayak guru lainnya, lah ini masiiiiiih aja suruh tes.

Sampe sekolah.
Entah jam berapa (I am sure I am late for coming to school). Buseeeeet! Temenku emang rajin-rajin yak. Dateng-dateng udah pada buka buku (tau ngapain), tanya sana-sini, enggak kayak aku yang malaynya keterlaluan. Tiba-tiba, Rini nawarin aku buat ikutan SCRABBLE. Rada males juga sih, lagian ngerti lombanya juga enggak. Macam apa aku pun gak ngerti. Setelah dijelasin panjang lebar blablabla aku pun memutuskan buat ikut. Berhubung pesertanya ada 3, kami pun nawarin marina buat ikut. And yeah, dia mau (walaupun dengan pemikiran yang muter-muter). Jadilah kami bertiga, srikandi FORTRESS. Yey semangat-semangat. Kami pun memulai mencari kata-kata yang bernilai tinggi. Ish susah juga ya main scrabble, ribet. Tapi tetep semangat, enggak boleh kalah sebelum bertanding. Yaaaa mari berjuang! Keep fighting!

Sampai di lapangan.
What? Is this real? Oh my gosh. Why do we have to get rivals like them? Oh, hopeless! Let’s imagine! Kami yang pada dasarnya biasa-biasa aja melawan para debater English yang kawakan. Apa sih maunya? It’s crazy, crazy, crazy banget.

Dengan sedikit nerveous (no, banyak), kami berusaha berjuang semaksimal mungkin. Menutup mata dari pandangan para kawakan itu. Awalnya sih kami cuma sekedar berpartisipasi aja, tapi lama-lama kami jadi sedikit ambisi gitu deh. Babak pertama, kedua, ketiga, keempat masih mulus. Ya, walaupun sebenarnya kami cuma main beruntung. Kata-kata yang kami susun sebelumnya ternyata gak cukup tinggi men dibanding group lain makanya kami memutuskan buat ganti kata. Anyway, you see, we are forbidden to use dictionary. So, ya cuma ngarang-ngarangan aja. Lucky us! Panitia penghitung score kami gak terlalu merhatiin baik spelling maupun meaningnya. Tahukah kalian? Kami memutuskan untuk mengarang meaningnya dan berhasil. Tapi itu gak berlangsung lama. Kami harus out setelah masuk 5 besar. Fiuh pertandingan yang alot. No problem. Masuk 5 besar itu adalah prestasi yang tidak buruk. Mengingat rival yang kami kira akan memperlihatkan abilitynya ternyata udah out duluan. Padahal diawal-awal poin mereka tinggi-tinggi banget, mbunuh mental kami duluan. Tapi eh gak taunya out duluan. Oh ya, aku mau share ke kalian. Ada kritik buat panitia. Kalo menurutku mereka gak terlalu berani buat menegakkan rulesnya. Mereka bilang yang bukan peserta dilarang memasuki area permainan dan membantu peserta, gimanapun caranya. Guess what? Ada beberapa konspirasi yang aku lihat. Semuanya dilakukan oleh SENIOR (betapa terlihatnya senioritas). Mereka dengan mudahnya membawa buku yang berisi kata-kata yang udah mereka siapin. Ada juga teman yang bantuin temannya dengan cara nyariin kata lewat mobile dictionary. Oh my gosh, apa-apaan? Is this a real fairplay? Tapi aku merasa cukup lega ketika para unfairer itu gak masuk finale. Alhamdulillah. Allah Maha Tahu dengan semua kelakuan Hamba-Nya.

Pelajaran moral yang aku dapatkan kali ini adalah jangan pernah merasa kalah sebelum bertanding. Coba dulu deh, pasti kalian akan mendapat passionnya.

Okay?

No comments:

Post a Comment

I CAN IF I THINK I CAN